liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Adu Kuat Indonesia - Vietnam Memacu Ekonomi dan Investasi

Adu Kuat Indonesia – Vietnam Memacu Ekonomi dan Investasi

3 minutes, 45 seconds Read

Indonesia dan Vietnam tidak hanya bersaing di lapangan. Di Piala AFF 2022, kiprah Indonesia terhenti setelah dikalahkan Vietnam di babak semifinal. Namun persaingan tidak hanya di golf, kedua negara juga bersaing untuk menjadi mesin ekonomi di Asia Tenggara.

Indonesia adalah ekonomi terbesar di kawasan ini. Pada 2021, produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai US$1.186 miliar atau 35% dari total 11 negara Asia Tenggara. Sedangkan Vietnam memiliki pangsa 11% atau US$366,1 miliar.

Meski begitu, perbedaan PDB per kapita kedua negara tidak terlalu jauh. Rata-rata per kapita Indonesia adalah US$4.333 pada tahun 2021. Tingkat kesejahteraan penduduk Indonesia menempati urutan kelima di Asia Tenggara. Sementara Vietnam berada satu peringkat di bawah Indonesia yakni US$3.757.

Secara historis, PDB per kapita Indonesia dan Vietnam terus meningkat. Namun, Vietnam memiliki peningkatan yang lebih stabil dibandingkan Indonesia. Angka PDB per kapita Indonesia mengalami penurunan pada tahun 1998, juga mengalami penurunan pada tahun 2013-2015 dan 2020.

Iklim Investasi

Vietnam memiliki peraturan yang memudahkan untuk membuka usaha. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan investasi asing di dalam negeri. Misalnya, tidak ada modal minimum yang harus disetor, kecuali untuk usaha padat modal.

Pajak Penghasilan (PPh) Badan di Vietnam juga lebih rendah dari Indonesia yaitu 20% berbanding 22%.

Tidak hanya itu, rasio investasi modal terhadap imbal hasil yang diperoleh (Peningkatan Rasio Output Modal/ ICOR) Vietnam juga tampil lebih baik dari Indonesia. Angka untuk Vietnam tercatat sebesar 4,6 pada tahun 2019, sedangkan untuk Indonesia sebesar 6,6.

Artinya penggunaan modal untuk produksi di Indonesia kurang efisien. Salah satunya karena praktik korupsi dan pungli masih marak.

Dengan iklim investasi yang lebih bersahabat, Vietnam mampu menarik lebih banyak modal dari luar negeri. Bank Dunia mencatat rasio investasi asing terhadap PDB Vietnam sebesar 4,3% pada 2021, jauh di atas Indonesia yang hanya 1,8%.

Nilai tambah manufaktur terhadap PDB Vietnam juga terus meningkat hingga mencapai 24,6% pada 2021. Sedangkan Indonesia turun menjadi 19,3%.

Kinerja Perdagangan

Investasi kemudian mempengaruhi kinerja ekspor. Kontribusi ekspor barang dan jasa terhadap PDB di Vietnam akan mencapai 93,3% pada tahun 2021, sedangkan kontribusi Indonesia hanya 21,6%.

Tak hanya itu, nilai ekspor Vietnam pada 2022 juga akan mencapai US$371,9 miliar, lebih besar dari Indonesia pada 2022 sebesar US$292 miliar.

Namun, Indonesia memiliki surplus perdagangan yang lebih besar tahun lalu. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia akan mencapai US$54,5 miliar pada 2022. Sementara menurut catatan Badan Pusat Statistik (GSO), Vietnam surplus US$11,2 miliar.

Ekonomi Digital

Di bidang ekonomi digital, Indonesia memiliki nilai barang dagangan kotor (GMV) atau total nilai ekonomi lebih besar dari Vietnam. Berdasarkan laporan “e-Conomy SEA 2022” yang dirilis Google, Temasek dan Bain & Company, nilainya US$77 miliar untuk Indonesia dan US$23 miliar untuk Vietnam pada 2022.

Meskipun demikian, pertumbuhan GMV Vietnam secara tahunan merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara, yaitu sebesar 28%. Bahkan, rata-rata pertumbuhan ekonomi digital Tanah Air diprediksi mencapai 31% per tahun mencapai US$49 miliar pada 2025.

Tidak hanya itu, penggunaan layanan digital oleh pengguna digital perkotaan di Vietnam umumnya lebih besar dibandingkan di Indonesia. Misalnya, sebanyak 96% pengguna digital perkotaan menggunakan layanan tersebut perdagangan elektronik di Vietnam, sedangkan pangsa di Indonesia akan menjadi 89% pada tahun 2022.

Penduduk Usia Produktif

Dari segi demografi, Indonesia dan Vietnam memiliki kecenderungan yang sama. Persentase penduduk usia produktif (15-64 tahun) di kedua negara tersebut masih mendominasi, yakni 70,7% di Indonesia dan 67,6% di Vietnam pada tahun 2020.

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia dan Vietnam menikmati bonus demografi—situasi ketika penduduk usia produktif melebihi penduduk usia tidak produktif.

Hayes dan Setyonaluri dalam laporan “Taking Advantage of the Demographic Dividend in Indonesia: A Brief Introduction to Theory and Practice” yang dikeluarkan oleh United Nations Population Fund (UNFPA) tahun 2015 menyebutkan bahwa jumlah penduduk yang besar pada usia produktif dapat meningkatkan output perkapita dan pertumbuhan ekonomi jika pasar tenaga kerja dapat menyerapnya.

“Jika kamu tidak bisa [diserap pasar tenaga kerja]maka akan ada sejumlah besar pekerja yang menganggur dan potensi sumber ketidakstabilan ekonomi dan politik,” tulis Hayes dan Setyonaluri.

Oleh karena itu, bonus demografi perlu dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, baik dari segi pendidikan maupun kesehatan.

Skor Human Capital Index (HCI) Indonesia sebesar 0,54 lebih rendah dari Vietnam sebesar 0,69 pada tahun 2020. Skor Vietnam juga merupakan yang tertinggi di antara negara berpenghasilan menengah ke bawah.

Meski begitu, populasi warga lanjut usia (lansia) di Indonesia dan Vietnam mengalami peningkatan. Penduduk berusia 65 tahun ke atas masing-masing akan menjadi 9,8% dan 8,3% pada tahun 2020.

Keadaan ini menyebabkan rasio ketergantungan terhadap penduduk usia produktif meningkat. Angka di Vietnam 13%, lebih tinggi dari Indonesia 10% pada 2021.

Meski persaingan ekonomi, Indonesia dan Vietnam memiliki pekerjaan rumah yang serupa. Salah satunya adalah dengan mengurangi tingkat ketimpangan pendapatan antar penduduk.

Rasio Gini Indonesia tercatat tidak berubah sebesar 0,384 pada Maret 2022 dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Vietnam hanya berhasil menurunkan rasio gini menjadi 0,373 pada 2020, setelah berada di kisaran 0,42-0,43 dalam lima tahun terakhir.

Similar Posts