liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Cukupkah Upah Minimum Membiayai Hidup Berumah Tangga?

Cukupkah Upah Minimum Membiayai Hidup Berumah Tangga?

4 minutes, 18 seconds Read

Pemerintah berencana menaikkan standar upah minimum provinsi (UMP) sebesar 10% pada 2023. Kenaikan itu setelah mempertimbangkan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Masalahnya, apakah upah minimum cukup untuk menutupi kebutuhan pekerja?

Upah minimum adalah batas bawah upah yang dibayarkan kepada pekerja setiap bulan. Besaran gaji tersebut diharapkan dapat menutupi kebutuhan hidup yang layak.

Namun, standar gaji ini hanya memperhitungkan kebutuhan pekerja lajang. Data menunjukkan bahwa upah minimum di beberapa kota di Indonesia belum tentu menutupi biaya hidup pekerja yang sudah menikah.

Katadata berusaha untuk memverifikasi kesesuaian antara upah minimum ini dan kebutuhan subsisten dari ketiga pekerja tersebut. Ketiganya adalah pekerja dengan penghasilan rata-rata per bulan setara dengan upah minimum. Dua orang lajang, sementara satu sudah menikah dan punya anak.

Muchlis adalah kurir ekspedisi yang berlokasi di Pondok Ranji, Tangerang Selatan. Penghasilannya sekitar Rp 4-5 juta per bulan. Menurut pria berusia 22 tahun itu, ia menghabiskan uang sekitar Rp 2 juta setiap bulan. Pengeluaran terbesar untuk cicilan sepeda motor adalah Rp 900 ribu.

“Alhamdulillah untuk kali ini namun masih cukup Saya belum menikah, sebagian besar pengeluaran saya untuk bahan bakar dan makanan. Saya juga masih tinggal dengan orang tua saya,” ujarnya.

Selebihnya, dari gaji ia mampu menabung. “Kemudian saya berikan sedikit tambahan kepada orang tua dan untuk bertahan di jalan,” ujar lulusan SMK ini.

April, 22 tahun, juga menyampaikan hal yang sama. Lulusan D3 perempuan ini berprofesi sebagai penulis konten di sebuah perusahaan media di Jakarta dengan gaji sekitar Rp 3-4 juta. Gajinya memang di bawah UMK Jakarta. Hal itu, menurutnya, karena statusnya hanya sebagai kontributor, bukan pegawai penuh.

Dengan penghasilan sebesar itu, ia mengaku tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk menebusnya, ia memiliki pekerjaan sampingan sebagai pekerja lepas (Gratis) staf administrasi di salah satu CV. Dari kerja sampingan ia bisa mendapatkan penghasilan tambahan, sehingga jumlah uang yang bisa dikantongi April setiap bulannya mencapai Rp 4-5 juta. Jumlah ini hampir sama dengan upah minimum Jakarta.

Menurut April, dengan gaji sebesar itu, beban bisa diringankan dan masih bisa ditabung. Dalam sebulan menghabiskan sekitar Rp 2 juta. Sebagian besar digunakan untuk cicilan sepeda motor Rp 1,5 juta. Sedangkan kebutuhan pribadinya hanya Rp 500 ribu dan jumlah yang sama diberikan kepada orang tuanya.

Tidak ada biaya Asrama karena saya tinggal dengan orang tua saya, tapi rumah itu masih kontrak,” katanya.

Sulit bagi Pekerja Keluarga

Bagi sebagian pekerja, terutama yang masih lajang, penghasilan yang setara dengan upah minimum masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Masalahnya, pekerja yang sudah berkeluarga cenderung akan kesulitan menutupi biaya hidup.

Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan survei biaya hidup (SBH) setiap empat tahun sekali. SBH terakhir dilaksanakan pada tahun 2018 yang dilaksanakan di 34 ibu kota provinsi dan 56 ibu kota kabupaten dan kota. Jumlah sampel sebanyak 141.600 rumah tangga. Namun artikel ini hanya menampilkan data tentang kota-kota di Pulau Jawa dan Bali.

Dibandingkan kota lain, Jakarta memiliki biaya hidup paling tinggi. Berdasarkan SBH 2018, rata-rata pengeluaran per kapita ibu kota adalah Rp 4,5 juta per bulan. Sedangkan rata-rata pengeluaran rumah tangga dengan 3-4 anggota keluarga adalah Rp 16,9 juta.

Sebagai catatan, SBH ini merupakan asumsi pengeluaran agregat rata-rata. SBH tidak memisahkan pengeluaran berdasarkan besar kecilnya kelompok pendapatan tertentu.

Dari data SBH, jika dibandingkan dengan rata-rata upah minimum, berada di bawah rata-rata pengeluaran per kapita tahun 2018. Dengan UMP sebesar Rp 3,7 juta, pekerja di Jakarta masih kekurangan sekitar Rp 800 ribu (17%) untuk menutupi biaya rata-rata tersebut. hidup per kapita selama sebulan.

Meski begitu, ada beberapa kota yang tingkat gajinya sudah melebihi rata-rata pengeluaran. Tangerang misalnya, di mana upah minimum ditetapkan Rp 3,6 juta, lebih tinggi dari rata-rata pengeluaran per kapita Rp 3,3 juta pada 2018. Warga Tangerang yang memiliki gaji setara upah minimum masih surplus Rp 325 ribu. (9%).

Masalahnya, kelebihan itu tidak cukup jika pegawai tersebut sudah berkeluarga dan memiliki tanggungan. Sedangkan penghasilan hanya berasal dari karyawan.

Seperti yang dialami Agustiar, 27 tahun. Seorang pekerja pemotongan ayam di Serua Indah, Ciputat, Tangerang Selatan mengatakan, gajinya saat ini berada di kisaran upah minimum sekitar Rp4 juta per bulan.

“Pengeluaran saya sebagian besar untuk kebutuhan anak-anak dan membayar sewa rumah,” ujarnya.

Setiap bulan Agustiar harus membayar uang sewa sebesar Rp 1 juta. Sedangkan untuk anaknya yang baru berusia 1,5 tahun, ia mengalokasikan sekitar Rp 600.000 untuk popok sekali pakai (popok) dan susu. Selain itu, ia juga memiliki cicilan sepeda motor sebesar Rp 1 juta. Sisanya digunakan untuk kebutuhan makan sehari-hari.

“Sering saya lepaskan. Ya, gajinya cukup, karena istrinya sama Tidak kerja,” kata Agustiar. Jika ada kekurangan, dia harus berutang kepada tetangga atau saudaranya.

Upah Naik, Biaya Hidup Terus Naik

Upah minimum di Jawa-Bali mengalami kenaikan rata-rata 22% dari tahun 2018 hingga 2022. Kenaikan upah tersebut sejalan dengan kenaikan indeks harga konsumen (IHK).

BPS belum merilis hasil SBH 2022. Namun, jika diukur berdasarkan IHK 2018 sebagai tahun dasar, rata-rata IHK sudah di atas 100. Artinya harga secara umum sudah naik dibandingkan tahun 2018. juga meningkat.

Di Jakarta misalnya, IHK tercatat 111,44 per Oktober 2022. Artinya, ada kenaikan harga barang sebesar 11,44% dibandingkan tahun dasar 2018.

Jika diasumsikan rata-rata kenaikan pengeluaran sama dengan kenaikan IHK yaitu 11,44%, maka pengeluaran Jakarta pada tahun 2022 sebesar Rp4,9 juta per kapita dan Rp18,8 juta per rumah tangga.

Angka tersebut lebih tinggi dari upah minimum Jakarta sebesar Rp 4,6 juta pada tahun 2022. Artinya, meskipun upah minimum naik, tingkat inflasi tetap akan menyebabkan biaya hidup menjadi lebih mahal seiring dengan kenaikan harga barang dan jasa.

Seseorang yang berpenghasilan di kisaran upah minimum akan cenderung kesulitan untuk menutup biaya hidup bulanan, selain untuk dirinya sendiri.

Similar Posts