liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Elektabilitas Tinggi, Bagaimana Kans Ganjar Pranowo di Pilpres 2024?

Elektabilitas Tinggi, Bagaimana Kans Ganjar Pranowo di Pilpres 2024?

2 minutes, 53 seconds Read

Dalam berbagai survei, nama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo selalu berada di puncak elektabilitas Pilpres 2024. Namun, tingkat elektabilitas tersebut tidak menempatkannya pada posisi aman sebagai calon presiden bahkan menangkan.

Hingga saat ini Ganjar belum mendapat dukungan resmi dari partai politik. Dia hanya mendapat dukungan resmi dari partai-partai kecil yang suaranya tidak cukup untuk memenuhi syarat calon presiden.

Bahkan diketahui Ganjar mendapat teguran dari partai politik lokalnya PDIP karena dinilai berlebihan dalam menyatakan kesiapannya menjadi capres.

Dewan Kehormatan PDIP menilai dirinya telah melanggar instruksi terkait komunikasi politik. Pasalnya, keputusan siapa yang akan mencalonkan diri di Pilpres 2024 ada di tangan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

(Baca: Kenapa Anies Unggul di Mata Pemilih Muda?)

Tantangan Ganjar selanjutnya adalah tingkat seleksinya yang masih belum meyakinkan. Memang dia selalu di atas, tapi potensi pilihannya masih jauh dari posisi menang. Rata-rata elektabilitas masih di bawah 30%, meski kemenangan ditetapkan 50% plus 1.

“Kalau bercermin ketika SBY dan Jokowi pertama kali mencalonkan diri sebagai presiden, tingkat elektabilitasnya mencapai 60%,” kata Direktur Eksekutif Riset Politik Indonesia (IPR) Ujang Komarudin.

Menurut dosen Universitas Al Azhar Indonesia ini, angka 60% bisa dikatakan sebagai batas psikologis untuk memenangkan pemilihan presiden. Di sisi lain, menurutnya proses pemilu 2024 masih panjang sehingga calon lain masih bisa mengejar.

(Baca: Mencermati Peluang Prabowo di Pilpres 2024)

Tak hanya Prabowo Subianto dan Anies Baswedan yang menjadi pesaing terdekatnya. Termasuk tokoh lain seperti Airlangga Hartanto dan Puan Maharani.

“Dinamikanya masih panjang, masih jauh. Seleksi nomor masih dinamis, masih fluktuatif. Kita tidak bisa melihat potensi kemenangan, termasuk Ganjar,” kata Ujang Katadata.co.id pada hari Rabu, 28 Oktober 2022.

Pemilih Mendukung Jokowi

Saiful Mujani, pendiri Saiful Mujani Research and Consulting Institute (SMRC), mengatakan tingginya elektabilitas Ganjar di berbagai survei didorong oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah kecenderungan pemilih Jokowi pada pilpres sebelumnya memilih pria berambut putih.

Pemilih Jokowi lebih memilih Ganjar daripada Prabowo dan Anies. Apalagi Ganjar merupakan pejabat publik yang aktif di media sosial. “Jadi trennya Ganjar selalu di depan (di kalangan pemilih Jokowi),” kata Saiful Mujani seperti dikutip dari Youtube SMRC TV dirilis pada 3 Juni 2022.

Menurut Saiful, kecenderungan pemilih Jokowi untuk mendukung Ganjar merupakan hal yang wajar. Basis dukungan Ganjar menurutnya sama dengan Jokowi yang kuat di Jawa Tengah.

Pada Pilpres 2019, pasangan Jokowi-Ma’ruf menang di 21 provinsi. Sedangkan pasangan Prabowo-Sandi unggul di 13 daerah. Pulau Jawa menjadi suara pasangan Jokowi-Ma’ruf khususnya di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan DKI Jakarta.

Jika pemilih Jokowi tetap mendukung Ganjar di Pilpres 2024, basis pemilih Ganjar dan Jokowi kemungkinan akan sama. Saiful mengatakan, Pilpres 2024 bisa mengulang Pilpres 2019.

Jika ada tiga calon yang akan bertarung, kemungkinan Pilpres 2024 akan berlangsung dalam dua putaran. “Jadi benar terjadi lagi, (misalnya) Pak Jokowi diganti Ganjar dan bersaing dengan Prabowo,” kata Saiful.

Presiden Joko Widodo belum memutuskan siapa yang akan didukungnya pada 2024. “Jangan terburu-buru. Padahal mungkin yang kita dukung ada di sini,” kata Jokowi saat meresmikan Rapat Kerja Nasional (Projo) V Pro Jokowi di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada 21 Mei 2022.

Pernyataan tersebut dicatat sebagai tanda dukungan terhadap Ganjar yang juga hadir dalam upacara tersebut.

Namun, jika memikirkan Pilkada DKI Jakarta 2017, belum tentu pemilih Jokowi akan memilih calon yang diusung eks Wali Kota Solo itu. Pada Pilkada 2012, Pilpres 2014, dan Pilpres 2019, Jokowi mendapat dukungan mayoritas warga Jakarta.

Di sisi lain, pada Pilkada 2017, suara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat yang didukung Jokowi justru turun. “Kasus Ahok terkait santet tentu berdampak pada hasil pilkada. Apalagi di kalangan pemilih muslim yang lebih mendukung Anies,” kata Ujang.

Alhasil, meski Jokowi mendukungnya, Ujang menilai Ganjar tetap harus bekerja keras untuk memenangkan Pilpres 2024. Soalnya, suara Jokowi belum tentu sama dengan pemilihnya.

Similar Posts