liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Menakar Kelanjutan Peran Biodiesel dalam Transisi Energi

Menakar Kelanjutan Peran Biodiesel dalam Transisi Energi

6 minutes, 38 seconds Read

Biodiesel sebagai Jembatan Menuju Energi Bersih

Transportasi merupakan salah satu subsektor yang berperan besar dalam penurunan emisi di sektor energi. Biodiesel dinilai memiliki peran strategis untuk menjembatani transisi menuju energi bersih.

Traction Energi Asia percaya bahwa penggunaan biodiesel sebagai campuran solar merupakan langkah awal yang baik dalam upaya penggunaan biofuel sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM).

Penerapan Biodiesel dalam Energy Mix (%)

Polutan matahari lebih banyak, sedangkan biodiesel penting untuk mengurangi emisi solar, yang banyak digunakan untuk kegiatan ekonomi. “Mulai dari alat angkut, alat berat, mesin industri, semuanya menggunakan solar,” jelas Manager Riset Traction Energi Asia Fariz Panghegar kepada Katadata, Kamis (21/4/22).

Implementasi pencampuran biodiesel (B30) 30 persen juga berkontribusi pada rencana transisi energi negara. Dalam rencana bauran energi nasional, energi fosil perlahan akan digantikan oleh energi baru terbarukan (EBT).

Sejauh ini bauran EBT sudah mencapai 11,5 persen dari total bauran energi primer. Dari angka tersebut, biodiesel menyumbang 35 persen dari total bauran energi terbarukan.

Soal penggunaan campuran biodiesel, Indonesia memang cukup progresif. Di dunia sekarang ini, hanya Indonesia yang menerapkan blending alias pencampuran biodiesel dengan solar hingga 30 persen.

Ilustrasi mikroalga untuk penggunaan biodiesel generasi ketiga. Kredit: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra.

“Negara lain paling banyak hanya 7,5 persen. mengapa? Karena ada efek samping dari penggunaan persentase campuran yang tinggi,” kata Fariz. Dijelaskannya, ada dampak komponen filter solar pada kendaraan yang perlu lebih sering diganti, dua kali lebih cepat.

Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada kenaikan biaya perawatan kendaraan. Menurut dia, pencampuran 30 persen sudah optimal dan tidak boleh ditambahkan ke dalam campuran. “Jangan sampai biodiesel tidak terpakai dan kemudian hanya digunakan untuk mesin kecepatan rendah dan tidak bisa masuk transportasi darat lagi,” imbuhnya.

Fariz menjelaskan, pengembangan keragaman bahan baku lebih penting daripada fokus pada peningkatan campuran biodiesel. Oleh karena itu, produksi biodiesel tidak bergantung pada satu sumber saja.

Selain itu, ada tiga generasi teknologi biodiesel. Biodiesel generasi pertama menggunakan budidaya tanaman atau produk pangan. Generasi kedua menggunakan limbah dan produk sampingan atau produk tanaman non pangan. Kemudian generasi ketiga menggunakan alga.

Selama ini Indonesia masih dalam generasi pertama, bahkan bergantung pada satu komoditas yaitu minyak sawit mentah (CPO) alias minyak sawit.

Menurut Traction, sumber pelengkap biodiesel generasi 2 yang dapat dipertimbangkan untuk segera digunakan adalah minyak jelantah (UCO). Menurut Fariz, selama ini UCO sudah memasuki level yang lebih efisien.

“Pengalaman teman-teman, 1 kg minyak jelantah sekitar 1,1 liter, diubah menjadi biodiesel sekitar 1 liter, artinya konversi sekitar 90 persen. Efisien secara teknis dan perhitungan ekonominya masuk akal,” jelasnya

Dari studi yang dilakukan oleh Traction Energy Asia, pengumpulan minyak goreng bekas dari rumah tangga bisa mencapai 1,2 juta kiloliter (kl)/tahun. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan perhitungan Badan Pusat Statistik yang mencatat 1,6 juta kl/tahun.

“Kalau melihat alokasi penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) tahun 2020, cukup memenuhi 10 persen. Itu baru dari rumah tangga, bukan ke UKM dan perusahaan besar atau hotel dan restoran,” kata Fariz.

Fariz mengatakan pemerintah berperan penting dalam membuat kebijakan implementasi biodiesel UCO di lapangan. Rantainya juga cukup panjang, mulai dari mendefinisikan UCO sebagai limbah, membangun tata kelola perdagangan UCO, menyusun jalur suplai dan menetapkan harga, hingga menetapkan insentif dan proses konsumsi.

Selain itu, biodiesel dari minyak jelantah juga dikatakan menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan emisi biodiesel dari MSM sebagai bahan baku. Ini juga merupakan salah satu kesimpulan dari studi Traction Energy Asia.

Studi tersebut menjelaskan bahwa semakin besar campuran UCO untuk biodiesel, semakin kecil emisinya. Pada skema B30 yang bahan bakunya seluruhnya dari CPO, emisinya mencapai 70,88 juta ton CO2e. Sedangkan dengan campuran UCO 10 persen sebagai bahan baku, emisi yang dihasilkan sebesar 69 juta ton CO2e. Emisi terus menurun hingga mencapai 48,9 juta ton CO2e jika UCO digunakan seluruhnya sebagai bahan baku.

Alokasi biodiesel UCO untuk memenuhi kebutuhan negara, sebesar 10 persen hingga 30 persen dapat menurunkan emisi yang dihasilkan hingga 24 persen dari total target penurunan emisi sektor energi pada tahun 2022.

Pertamina sebagai produsen produk biodiesel mengidentifikasi beberapa permasalahan teknis yang ada. Bayu Prabowo, Senior Research Specialist Energi Baru dan Terbarukan PT Pertamina, menjelaskan dengan kualitas minyak goreng bekas di Indonesia, biodiesel campuran yang dihasilkan akan semakin rendah kualitas dan kuantitasnya.

Ilustrasi lokasi produksi Green Diesel oleh Pertamina. Kredit: ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid.

“Rantai (proses) akan lebih panjang untuk menghasilkan campuran biodiesel yang setara dengan fatty acid methyl ester (FAME) dari MSM,” ujar Bayu.

Ada dua proses yang harus ditambahkan, penghilangan air dan esterifikasi. Kedua proses tersebut akan meningkatkan kebutuhan energi sekitar 1,8x dibandingkan produksi FAME dari MSM.

“Ini tidak menutup peluang, tapi harus kita antisipasi dan kembangkan bersama,” ujarnya. Ia masih meyakini pemanfaatan UCO sebagai bahan baku pelengkap biodiesel juga memiliki potensi besar di Indonesia. Namun, dampaknya terhadap proses juga harus diperhatikan.

Penambahan proses adalah alternatif. Pilihan lainnya adalah menggunakan biodiesel dari UCO untuk sektor selain kendaraan darat, seperti mesin dan kapal, atau menggunakan UCO untuk proses lain, seperti produksi Green Diesel (D-100).

D100 adalah produk lain yang berasal dari bahan baku biodiesel. Biofuel atau BBN merupakan hasil pengolahan minyak sawit yang telah disuling, dikelantang, dan dihilangkan baunya (RBDPO). Produk tersebut 100 persen berasal dari minyak sawit mentah atau MSM dan bahan baku generasi kedua.

Diproyeksikan campuran D100 dapat digunakan untuk pengembangan B30 selanjutnya, untuk menggantikan campuran solar murni. Hal ini karena campuran biodiesel sulit untuk meningkat. Alhasil, dalam pengembangan biodiesel nanti, misalnya campuran B30 (FAME 30 persen), D100 (20 persen), dan solar (50 persen).

Tidak berhenti disitu, teknologi green diesel juga sedang dikembangkan oleh Pertamina untuk produk green otomotif, bahan bakar jet dan green gasoline, sebagai pengganti bensin.

Singkatnya, green diesel merupakan produk lanjutan dari biodiesel yang menghasilkan biofuel dengan kualitas lebih baik dan memaksimalkan penggunaan bahan baku. Padahal, menurut Bayu, kualitasnya setara dengan bahan bakar untuk mesin diesel. “Jadi kalau mau B100 harus pakai green diesel,” ujarnya.

Namun, Bayu juga menekankan kendala penggunaan D100 pada skala komersial karena aspek ekonomi. Mahalnya harga bahan baku dibandingkan solar ditambah dengan biaya proses yang juga tidak murah membuat biaya produksi masih di atas Rp 17.000/liter. Lebih tinggi dari biodiesel yang sekitar Rp 13.000 setelah mendapat suntikan subsidi.

Menurut Bayu, kemungkinan solusi jangka pendek untuk green diesel adalah mengekspor sebagian green diesel ke pasar Eropa yang bersedia membayar harga tinggi untuk produk seperti ini. Selain itu, pajak ekspor dapat digunakan untuk mensubsidi konsumsi diesel hijau dalam negeri.

Meski saat ini berperan sebagai sumber energi pendukung transisi ke EBT, pengembangan biodiesel harus memastikan faktor keberlanjutannya terjamin. Terutama dalam hal keseimbangan lingkungan dan emisi yang dihasilkan.

Dengan situasi saat ini yang masih sepenuhnya bergantung pada komoditas kelapa sawit, pemanfaatan lahan perlu mendapat perhatian.

“Emisi biodiesel tetap besar karena menggunakan tanaman budidaya sebagai basisnya. Itu membutuhkan lahan yang luas,” ujar Fariz mewakili Traction.

Ia menambahkan, jika tidak menggunakan bahan baku pelengkap dari limbah (generasi kedua) atau alga (generasi ketiga), maka akan ada kecenderungan untuk terus memperluas perkebunan sawit yang berisiko merambah kawasan konservasi.

“Inti dari pengurangan gas rumah kaca (GRK) adalah berusaha agar kawasan konservasi tidak terganggu, selain mengurangi emisi dari perkebunan dan sektor energi,” kata Fariz. “Jangan mengurangi GRK di sektor energi, tapi lepaskan di sektor lain.”

Dalam kapasitasnya sebagai peneliti, Bayu juga memiliki pendapat yang sama. Menurutnya, penghitungan pengurangan karbon dari biodiesel tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat emisi kendaraan. Mulai dari proses pembukaan lahan, proses budidaya, hingga pengolahan menjadi biodiesel, hingga transportasi juga perlu diperhatikan.

“Biodiesel bisa menjadi energi bersih di masa depan jika daur hidup produksi dilakukan secara bertanggung jawab. Dalam artian (biodiesel) dari lahan yang tidak memiliki intensitas karbon tinggi,” jelasnya.

Sementara itu, Madani Berkelanjutan menilai tata kelola sawit perlu mendapat perhatian jika program biodiesel terus dikembangkan. Pemanfaatan MSM tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga pangan dan oleokimia. Keadaan ini akan mendorong pembukaan lahan jika tidak ada inisiatif untuk meningkatkan produktivitas.

Berbagai pihak antara lain pemerintah, CSO dan Pertamina menyatakan bahwa biodiesel akan tetap berperan sebagai sumber energi di negeri ini. Meski ke depan peralihannya lebih ke listrik, biodiesel kini berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan energi yang belum bisa dipenuhi oleh listrik.

Similar Posts