Banyak daerah rawan bencana di Indonesia, sehingga keterpaparan masyarakat terhadap potensi bencana tinggi. Kelompok rentan adalah yang paling berisiko terkena bencana.
Berdasarkan UU No. 24 Tahun 2007, kelompok rentan terdiri dari bayi, anak-anak, anak-anak, ibu hamil/menyusui, penyandang cacat, dan lanjut usia. Selain mereka, ada beberapa kelompok masyarakat lain yang juga rentan, terutama dari segi status ekonomi, status kesehatan, letak geografis, dan kelompok minoritas.
Ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya, termasuk kelompok rentan, seperti kurangnya kemampuan mempersiapkan diri dalam menghadapi risiko dan ancaman bencana. Selain itu juga terkait dengan posisi suatu kelompok masyarakat yang cenderung merasakan dampak yang lebih besar dibandingkan masyarakat lainnya, ketika terjadi bencana.
Khusus untuk anak-anak sebagai kelompok rentan, Wahana Visi Indonesia (WVI) membuat klasifikasi yang mencakup, anak-anak dalam hubungan kekerasan dan eksploitatif, anak-anak dalam kemiskinan dan deprivasi ekstrim, dan ada anak-anak yang mengalami diskriminasi serius sehingga mereka tidak dapat mengakses melayani.
Selanjutnya, ada anak-anak yang paling rentan terhadap dampak negatif dari bencana, musibah atau tragedi. Kemudian ada anak cacat atau penyakit yang mengancam jiwa (HIV-AIDS). Last but not least adalah anak-anak yang kurang perawatan dan perlindungan yang memadai.
Kerentanan kelompok rentan dapat diminimalkan melalui program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang inklusif. Ruang lingkup kegiatan PRB meliputi identifikasi dan pemantauan risiko bencana, perencanaan partisipatif penanggulangan bencana, pengembangan budaya sadar bencana, peningkatan komitmen pelaku penanggulangan bencana, serta pelaksanaan upaya fisik dan non fisik dan pengaturan penanggulangan bencana.
Ada beberapa aspek yang menjadi faktor penentu dalam pemenuhan kebutuhan kelompok rentan dalam kegiatan seperti akses, partisipasi, pengambilan keputusan, sistem, kesejahteraan.
Artinya, jika kelompok rentan memiliki akses; kesempatan yang sama untuk pengambilan keputusan dan partisipasi dalam penanggulangan bencana pada tingkat individu, rumah tangga dan masyarakat; sistem penanggulangan bencana yang setara, adil dan inklusif; maka kesejahteraan kelompok rentan akan meningkat.
Kemudian, individu akan diberdayakan untuk mencapai potensi penuh mereka. Selain itu, rumah tangga juga memiliki hubungan yang setara, adil, tanggung jawab bersama, dan seimbang dalam konteks penanggulangan bencana. Masyarakat juga akan dilibatkan secara kolektif dalam aksi, mobilisasi dan ketangguhan dalam menghadapi bencana. Dan mereka akan membangun sistem perubahan manajemen bencana yang transformatif. Dengan demikian, kelompok, keluarga, dan masyarakat rentan akan memiliki ketahanan yang lebih kuat terhadap bencana.
Sementara itu, WVI memberikan beberapa rekomendasi terkait keikutsertaan kelompok rentan dalam kegiatan PRB. Pertama, pengumpulan data (usia, jenis kelamin, dan hambatan yang ditemui) dilakukan secara terpisah. Kedua, penyediaan akses untuk memenuhi hak kelompok rentan. Ketiga, partisipasi berarti semua kelompok rentan.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang berbagai kegiatan Pengurangan Risiko Bencana, Anda dapat mengunjungi https://wahanavisi.org/id/sinergi.