liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
ronin86
cocol77
cocol77
cocol77
maxwin138
MASTER38 MASTER38 MASTER38 MASTER38 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 COCOL88 COCOL88 COCOL88 COCOL88 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 ZONA69 ZONA69 ZONA69 NOBAR69 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38
SLOT GACOR HARI INI SLOT GACOR HARI INI
BOSSWIN168 BOSSWIN168
BARON69
COCOL88
MAX69 MAX69 MAX69
COCOL88 COCOL88 LOGIN BARON69 RONIN86 DINASTI168
Pidato Megawati 2019-2023: Apa Topik yang Dibahas dan yang Tak Disinggung?

Pidato Megawati 2019-2023: Apa Topik yang Dibahas dan yang Tak Disinggung?

8 minutes, 39 seconds Read

Di Indonesia barangkali tidak ada tokoh sekuat dan memiliki kekuasaan sebesar Megawati Soekarnoputri. Bukan hanya di kalangan perempuan, tokoh laki-laki pun tak ada yang menyamai posisi mantan presiden ke-5 tersebut.

PDIP, partai yang telah dipimpinnya selama lebih dua dekade, merupakan partai terbesar di tanah air. PDIP menempatkan 128 kadernya atau 22,26% dari total kursi parlemen saat ini. Sekaligus membuat partai berlambang banteng moncong putih ini menjadi satu-satunya partai yang dapat mencalonkan presiden dalam pemilihan umum (Pemilu) 2024. 

Presiden Joko Widodo yang saat ini berkuasa adalah kader PDIP. Megawati pernah menyebut Jokowi, panggilan akrab Joko Widodo, sebagai petugas partai. Sebutan yang sekaligus ingin menunjukkan bahwa Jokowi adalah bawahannya.

Begitu kuat kuasanya membuat Megawati sangat percaya diri saat berbicara di depan publik. Dia dapat berbicara tentang apa saja, termasuk saat berbicara mengenai dirinya maupun topik-topik lain, tanpa khawatir ada yang menginterupsi. Meskipun tak jarang pernyataannya memunculkan kontroversi dan menjadi buah bibir di media sosial. 

“Ketika saya mau punya menantu, saya sudah bilang sama anak saya, awas lho kalau carinya yang kayak tukang bakso.”

Kalimat itu disampaikan sebagai guyonan saat berpidato dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan pada 21 Juni 2022. Hadirin pun tertawa setelah mendengar ucapan Megawati.

Namun, pernyataan itu lantas menjadi sorotan dan buah bibir di media sosial. Dia dinilai tidak memiliki sensitivitas sosial, terutama terhadap kalangan wong cilik yang selama ini menjadi konstituennya.

Ini bukan satu-satunya pernyataan Megawati yang menuai kontroversi. Di webinar “Cegah Stunting untuk Generasi Emas” pada 17 Maret 2022, dia mempertanyakan kebiasaan ibu-ibu menggoreng sampai harus mengantre dan berebut minyak goreng yang sedang langka.

Mengapa Megawati kerap menyampaikan pandangan yang memunculkan polemik? Apa dan siapa yang dia bicarakan? Apa tujuannya?

Katadata.co.id menonton dan mencatat isi berbagai pidato Megawati selama kurun 2019-2023 untuk menjawab sejumlah pertanyaan tersebut. Seluruhnya ada 10 pidato dengan total durasi mencapai 583 menit. 

Kami menghitung berapa lama Megawati membicarakan suatu isu, kemudian mengelompokkannya ke dalam topik-topik besar. Misalnya, politik, perempuan, dan riset. Alhasil, kami mengetahui topik-topik yang menjadi perhatian utama Megawati.

Politik adalah topik utama yang kerap dibahas Megawati. Dia bisa menghabiskan lebih 50% dari total durasi berpidato ketika membicarakan persoalan ini. Meskipun pada saat berpidato, dia lebih sering mengikuti naskah yang telah disiapkan. 

Namun saat menjadi pembicara kunci di luar acara politik, isu politik hanya mengambil sekitar 20-30% dari total durasi. Biasanya ketika berbicara politik di acara ini merupakan hasil ‘improvisasi”. Salah satunya, keheranan dan kritik Megawati terhadap kebiasaan wong cilik seperti pada kasus ibu pengajian.

Megawati mengangkat atau menyisipkan topik politik dalam pidatonya seolah ingin mengingatkan kembali atau mengukuhkan kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya. Pada topik ini, ada dua subtopik yang paling sering dibahas atau hampir selalu muncul dalam pidato-pidatonya. 

Pertama, sejarah pembentukan PDIP dan karier Megawati di dunia politik, yang keduanya tidak bisa dipisahkan dari warisan sang ayah, Sukarno. Megawati kerap memaparkan jasa dan pemikiran Sukarno bagi Indonesia, dibarengi cerita sebagai anak kandung dan anak ideologisnya.

“Sudah ada Konferensi Asia-Afrika, Konferensi Non-Blok. Sampai hari ini, mana ada dunia membuat sebuah konferensi yang sebesar itu? Coba saja lihat,” kata Megawati di HUT PDI Perjuangan ke-49 pada 10 Januari 2022.

Gregory Coles (2018) dalam artikel “What Do I Lack as a Woman?: The Rhetoric of Megawati Sukarnoputri” di jurnal Rhetorica mengatakan, penyebutan Sukarno secara ekstensif dalam pidato-pidato Megawati tidaklah mengherankan. Sebab, pengaruh Sukarno sangat besar dalam ingatan kolektif masyarakat. 

Artinya, dia memiliki fondasi yang lebih kuat daripada tokoh politik lain untuk mengklaim perpanjangan gagasan Sukarnoisme, nasionalisme, atau yang berhubungan dengan wong cilik. Coles bahkan menyebut Megawati sebagai representasi simbolis dari Sukarno yang mungkin tak bisa dipisahkan dari gagasan “Indonesia” itu sendiri.

Meski begitu, Megawati tetap menggambarkan dirinya sebagai sosok yang pantas duduk di kursi pemimpin, bukan sekadar mewarisi apa yang telah dicapai ayahnya. Megawati biasanya menceritakan konteks ini kepada situasi pasca-kejatuhan Sukarno dan sebelum terjun ke dunia politik.

“Pada waktu itu, karena keadaan politik, bapak saya dilengserkan. Jadi, kami ini, kalau ada di roda atas, langsung diturunkan ke bawah, hidup sebagai rakyat biasa. Tapi, fighting spirit saya dan keluarga tidak hilang. Akhirnya, saya sekarang diakui,” ujarnya di acara Sarasehan “Indonesia Muda Membaca Bung Karno” pada 29 Juni 2021.

Kedua, instruksi Megawati kepada para kader PDI Perjuangan. Misalnya, kader harus mau turun ke bawah agar mendapatkan suara dan tidak melupakan janjinya pada masyarakat. Kemudian, harus mengikuti proses kaderisasi dan struktur kerja di partai, bukan hanya haus kekuasaan.

Megawati juga mengatakan tidak segan memecat kader yang melawan instruksinya. “Jadi, jangan bikin ibu ini untuk melakukan itu (pemecatan),” katanya di HUT PDI Perjuangan ke-50 pada 10 Januari 2023.

Instruksi semacam ini juga diberikan kepada Presiden Jokowi yang bagi Megawati, tetaplah sebagai “petugas partai,” sebagaimana pernah dilontarkannya dalam pidato pada 2015.

Di Kongres V PDI Perjuangan pada 8 Agustus 2019, misalnya, Megawati meminta partainya “masuk ke dalam kabinet dengan jumlah menteri yang harus terbanyak.” Permintaan ini disampaikan kepada Jokowi yang saat itu tengah mempersiapkan susunan kabinet di periode pemerintahannya yang kedua. Saat ini, ada lima menteri di Kabinet Indonesia Maju yang berasal dari PDI Perjuangan, terbanyak dibandingkan partai politik lain.

Pada kesempatan yang sama, Megawati juga meminta Jokowi untuk membentuk sebuah badan riset nasional. Permintaan ini pun berulang kali disampaikannya dalam pidato di acara-acara lain.

Jokowi kemudian membentuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2019, yang terintegrasi dengan Kementerian Riset dan Teknologi. Lalu, Jokowi memisahkan BRIN dan menjadikannya lembaga yang berdiri sendiri pada 2021. Dia lalu menunjuk Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN.

Sementara itu, subtopik politik lain yang dibahas Megawati dalam pidatonya bergantung pada kondisi dan peristiwa yang terjadi ketika pidatonya berlangsung. Baru-baru ini, Megawati menyinggung partai politik lain yang mengusung kader PDIP pada Pemilu 2024.

“Memangnya tidak punya kader sendiri?” tanya Megawati di HUT PDI Perjuangan ke-50.

Jika mendengarkan pidato-pidatonya, Megawati tampak memiliki cita-cita mulia bagi perempuan Indonesia. Dia tidak menginginkan diskriminasi terhadap perempuan, termasuk di bidang politik dalam mengisi kursi legislatif maupun eksekutif.

Namun pandangan Megawati terhadap isu-isu ini lahir dari posisi, pengalaman, dan pencapaiannya sendiri. Dia tidak menghitung status dan hak istimewa yang diperolehnya sebagai bagian dari trah elite di negara ini. Dia juga tidak mempertimbangkan adanya perbedaan kondisi dan kelas di masyarakat, yang membuat perempuan lain sulit menggapai posisi yang telah diraih Megawati. 

Dalam pidatonya, Megawati sering meminta perempuan di Indonesia menjadikan dirinya sebagai panutan. Dia menempatkan dirinya sebagai gambaran perempuan maju dalam konteks nasional.

“Ibu-ibu, please, tolong, kaum perempuan itu, contoh saya. Seorang perempuan bisa jadi presiden, wakil presiden, tiga kali DPR, ketua umum partai sampai sekarang, apalagi coba dong? Kalian pun bisa!” kata Megawati di Sarasehan “Indonesia Muda Membaca Bung Karno” pada 29 Juni 2021.

Megawati juga beberapa kali mengomentari kebiasaan ibu-ibu di Indonesia yang tidak sesuai dengan kebiasaannya. Misalnya, dia berpendapat perempuan sekarang lebih suka berdandan ketimbang mengurus anak mereka. Akibatnya, banyak anak yang masih mengalami stunting.

Padahal semasa menjadi presiden, Megawati mengatakan tetap meladeni suami dan memasak untuk anak-anaknya. Karena itu, anak dan cucu Megawati tumbuh “keren-keren, ganteng, cantik,” ucapnya di HUT PDI Perjuangan ke-50.

Kemudian, di acara Kick Off BKKBN, Megawati menyinggung ibu-ibu yang suka ikut pengajian dengan narasi serupa di atas. “Maaf beribu maaf, ini pengajian sampai kapan, anaknya mau diapakan?” tanya Megawati.

Chusnul Mar’iyah, pengajar ilmu politik Universitas Indonesia, mengatakan Megawati kurang berempati terhadap isu perempuan. Menurutnya, ini mungkin lantaran Megawati tinggal di lingkungan Istana Negara sedari kecil, seperti dikutip dari acara “Perempuan Bicara” di tvOne pada 24 Februari 2023.

Topik perempuan dalam pidato-pidato Megawati pun tak bisa dipisahkan dari sifat narsisme. Megawati kerap memuji dirinya sendiri berdasarkan kekuasaan dan kekuatan yang dia miliki serta pencapaian dirinya—hal sama yang mendasari cita-cita Megawati bagi perempuan Indonesia.

Rosenthal dan Pittinsky (2006) dalam “Narcissistic leadership” di jurnal The Leadership Quarterly mengatakan, narsisme seorang pemimpin lahir dari sifat percaya diri. Selain itu, narsisme juga umumnya dimotivasi kebutuhan akan kekuasaan dan kekaguman dari pihak lain. 

“Kalau aku mau selfie, pasti pengikutku banyak. Karena satu, perempuan; dua, cantik; tiga, karismatik; empat, pintar. Aku ini jadi profesor saja dua, doktor honoris causa sembilan, ini saja masih menunggu lagi lima karena pandemi,” kata Megawati di HUT PDI Perjuangan ke-50.

Menurut Rosenthal dan Pittinsky, salah satu sisi buruk seorang pemimpin yang narsis adalah kurangnya empati. Mereka tidak mampu memahami masalah dari sudut pandang orang lain, sehingga mengambil keputusan yang berpusat pada dirinya sendiri dan mengabaikan hal-hal yang bertentangan dengan itu.

Dalam sejumlah pidato Megawati akhir-akhir ini, topik perempuan dan narsisme porsinya meningkat. Persentase yang biasanya di bawah 10% dari total durasi pidato pada 2019-2022 berubah menjadi lebih dari 20% total durasi pidatonya pada awal 2023.

Dalam sekali berpidato, Megawati biasanya berbicara sepanjang 30-60 menit tanpa jeda, meski ada yang hampir 120 menit. Namun dari 10 pidato yang kami analisis, ada sejumlah hal yang tidak pernah dibahas Megawati.  

Pertama, sikap politik Megawati sendiri. Politik memang jadi perhatian utama Megawati, tetapi dia masih lebih banyak memaparkan pemikiran dan kebijakan Sukarno, daripada menjelaskan pemikiran dan perspektifnya sendiri. 

Di HUT PDI Perjuangan ke-49, Megawati bercerita bagaimana dia disambut baik oleh masyarakat di Jawa Tengah ketika baru menjadi anggota DPR. Megawati melanjutkan, ini lantaran dia putri Sukarno dan masyarakat tersebut pendukung Partai Nasional Indonesia (PNI), partai yang didirikan ayahnya.

Namun, sambutan baik itu bukan karena program dan kebijakan politik Megawati yang berpihak pada kelompok masyarakat tersebut.

Dalam pandangan Coles, klaim Megawati sebagai anak ideologis Sukarno justru membuat pemikiran dan kebijakan sang ayah menjadi sikap politik Megawati.

“Alih-alih mengartikulasikan sikap politiknya terhadap isu-isu penting, Megawati menggunakan cerita masa kecilnya untuk menempatkan isu-isu itu sebagai kewajiban ayahnya, lalu menggambarkan dirinya sebagai putri berbakti yang akan melaksanakan perintahnya,” tulis Coles.

Kedua, pernyataan-pernyataan Megawati tidak berbasis data. Misalnya, di Rakernas II PDI Perjuangan, Megawati mengatakan “ibunya yang mesti dicereweti” saat membahas masalah stunting di Indonesia. 

Padahal, melansir situs Kementerian Kesehatan, stunting tidak hanya disebabkan dari faktor ibu, tetapi juga kemiskinan, pengaruh budaya, dan penyakit bawaan.

Menurut Chusnul Mar’iyah, sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN, Megawati harusnya dapat memberi argumen berdasarkan data, hasil riset, dan referensi yang tepat. Dengan begitu, apa yang dia sampaikan bukan sekadar klaim sepihak dan sebatas pengalaman dirinya.

Ketiga, dari 10 pidato yang kami analisis, Megawati tak pernah membicarakan topik ekonomi. Dia hanya sempat membahas, sekaligus mengkritik pemerintah mengenai harga barang yang selalu naik, terutama minyak goreng.

“Kok klasik amat ya? Tujuh puluh enam tahun merdeka lho, masa sih begitu saja, di mana ya salahnya?” tanya Megawati di HUT PDI Perjuangan ke-49.

Namun, Megawati tak pernah membicarakan soal resesi ekonomi dan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) saat pandemi Covid-19. Begitu pula dengan tantangan ekonomi global pada 2023, seperti krisis beberapa komoditas dan bahan pangan.

Dia juga tidak menyentuh topik ekonomi yang berkaitan erat dengan wong cilik dan “rakyat sendal jepit,” yang justru diwakili partainya. Masalah kemiskinan struktural dan kesenjangan ekonomi tidak menjadi perhatian utama Megawati dalam pidato-pidatonya.

Similar Posts

COCOL88 GACOR77 RECEH88 NGASO77 TANGO77 PASUKAN88 MEWAHBET MANTUL138 EPICWIN138